Program mengenai branding atlet ini lahir dari keprihatinan atas banyaknya pemain muda berbakat yang kehilangan peluang mendapatkan sponsor atau kontrak profesional hanya karena rekam jejak digital yang kurang baik. Dalam lokakarya ini, para pemain diajarkan bahwa setiap unggahan, komentar, dan konten yang mereka bagikan adalah representasi dari kepribadian dan profesionalisme mereka sebagai atlet. Citra yang terbangun dengan baik akan meningkatkan nilai jual mereka di mata perusahaan-perusahaan yang ingin melakukan kerja sama pemasaran, sehingga atlet memiliki sumber pendapatan tambahan untuk menunjang kebutuhan latihan dan nutrisi mereka.
Melalui sesi ini, pihak pengurus mengundang ahli komunikasi digital untuk ajarkan pemain mengenai etika dan strategi konten. Materi yang disampaikan mencakup cara menyusun profil yang menarik, pentingnya berbagi proses latihan (behind the scenes), hingga cara menangani komentar negatif dari warganet secara bijak. Di Tangerang, banyak atlet muda yang sudah memiliki ribuan pengikut, namun mereka belum paham bagaimana memanfaatkan pengaruh tersebut untuk hal yang produktif. Dengan edukasi ini, mereka didorong untuk menjadi influencer di bidang olahraga yang mampu memberikan dampak positif bagi komunitas sekitarnya.
Kemampuan untuk kelola media sosial secara profesional juga berfungsi sebagai benteng perlindungan bagi kesehatan mental atlet. Dengan memahami batasan antara kehidupan pribadi dan kehidupan publik, pemain dapat terhindar dari stres akibat perundungan siber yang sering kali mengganggu konsentrasi bertanding. Perbasi Tangerang menekankan bahwa media sosial harus menjadi alat pendukung karier, bukan beban yang merusak fokus latihan. Selain itu, kemampuan bercerita (storytelling) mengenai perjalanan karier mereka dapat menginspirasi lebih banyak anak muda di Tangerang untuk mulai menekuni olahraga bola basket.
Integrasi antara manajemen karier dan prestasi fisik ini menjadikan Tangerang sebagai salah satu daerah dengan pola pembinaan yang paling modern. Pihak sponsor dan mitra potensial kini lebih tertarik untuk bekerja sama dengan tim atau individu yang memiliki komunikasi digital yang rapi dan terarah. Ini adalah bentuk nyata dari adaptasi organisasi olahraga terhadap ekosistem industri modern yang serba digital. Atlet tidak lagi hanya dipandang sebagai “pekerja lapangan”, melainkan sebagai merek berjalan yang harus dijaga kredibilitasnya setiap saat, baik di dalam maupun di luar arena pertandingan.
