Moses Malone adalah anomali langka dalam sejarah bola basket profesional Amerika. Ia menjadi pemain pertama yang langsung beralih dari sekolah menengah ke liga profesional, memulai karirnya di American Basketball Association (ABA) sebelum akhirnya mendominasi National Basketball Association (NBA) selama dua dekade. Warisan utamanya tidak hanya terletak pada tiga penghargaan MVP yang ia raih, tetapi pada Kekuatan Rebound-nya yang absolut, menjadikannya salah satu center paling efisien dan tangguh yang pernah ada. Malone dikenal memiliki etos kerja yang tak kenal lelah, yang termanifestasi dalam statistik offensive rebound yang memecahkan rekor dan menjadi Kunci Dominasi permainannya. Kedisiplinannya dan keuletannya di bawah ring adalah faktor yang sering terlupakan ketika membahas para center terbaik, namun Kekuatan Rebound Malone-lah yang mengubah alur pertandingan.
Karier Malone dimulai secara profesional pada usia 19 tahun ketika ia direkrut oleh Utah Stars di ABA pada tahun 1974, setelah ia lulus dari Petersburg High School, Virginia. Setelah penggabungan ABA dan NBA pada tahun 1976, ia segera membuktikan dirinya sebagai center yang tangguh. Meskipun tingginya tidak sebanding dengan center raksasa lainnya pada masanya, Malone mengandalkan naluri, penempatan posisi yang cerdas, dan yang terpenting, upaya yang gigih untuk mendapatkan bola. Malone menjadi juara rebound NBA sebanyak enam kali dan hingga kini memegang rekor offensive rebound terbanyak sepanjang masa. Berdasarkan catatan resmi NBA, ia mengumpulkan 6.731 offensive rebound sepanjang karirnya, hampir 2.000 lebih banyak dari pesaing terdekatnya.
Yang membedakan Malone bukan hanya jumlah rebound yang ia kumpulkan, tetapi dampak psikologis yang ia timbulkan pada lawan. Setiap kali timnya melewatkan tembakan, lawan tahu bahwa Malone akan mendapatkan kesempatan kedua, atau bahkan ketiga. Kekuatan Rebound yang berkelanjutan ini sering menghabiskan semangat tim lawan. Etos kerjanya sangat melegenda; ia dikenal dengan filosofi latihan “empat perempat” (four quarters) di mana ia berlatih sama kerasnya dengan intensitas yang sama di akhir sesi latihan seperti saat ia memulainya. Mantan Pelatih Houston Rockets, Bill Fitch, dalam sebuah memo internal kepada stafnya pada Februari 1982, pernah mencatat bahwa “Moses berlatih rebound offensive selama dua jam setelah sesi tim selesai, sesuatu yang belum pernah saya lihat dalam 20 tahun melatih.”
Puncak dominasi Malone adalah pada musim 1982-1983 bersama Philadelphia 76ers. Ia dinobatkan sebagai MVP Musim Reguler dan memimpin Sixers, bersama guard Julius Erving (Dr. J), meraih gelar juara NBA. Sebelum playoff dimulai, Malone secara terkenal membuat prediksi “Fo’, Fo’, Fo'” (merujuk pada sapuan 4−0 di setiap putaran). Meskipun Sixers akhirnya menang dengan catatan 12−1 (Fo’, Fi’, Fo’) di playoff, prediksi tersebut menunjukkan kepercayaan diri mutlak yang dibangun di atas kerja keras dan Kekuatan Rebound tak tertandingi. Dalam Final NBA 1983 melawan Lakers, Malone mendominasi center legendaris Kareem Abdul-Jabbar, mencetak rata-rata 26 poin dan 18 rebound dalam empat pertandingan. Sang Petugas Pengamanan Arena Spectrum Philadelphia, Mr. Leonard Jones, pernah melaporkan pada 31 Mei 1983 bahwa kebisingan dari papan backboard yang dipukul Malone selama Game 4 sangat keras sehingga memicu alarm keamanan di tribun atas. Moses Malone akan selalu menjadi simbol dedikasi tanpa henti dan center yang mendefinisikan dominasi di bawah ring melalui usaha keras.
